Site Loader
Rock Street, San Francisco

P { margin-bottom: 0.08in; }A:link { }

Annisa Dwi Widyastuti

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Fakultas Psikologi,
Universitas Muhammadiyah Malang

[email protected]

Di era modern saat ini,
sebagian besar individu mulai memiliki perhatian khusus terhadap
kualitas diri di masa depan. Untuk meraih masa depan yang baik,
sebagian individu mulai berpikir untuk meningkatkan mutu
pendidikannya dalam menentukan jalur karir yang diinginkan. Tak
jarang dari mereka memilih untuk melanjutkan pendidikan dari jenjang
Sekolah Menengah Atas menuju ke Perguruan Tinggi. Kita ketahui bahwa
Indonesia memiliki berbagai daerah kota besar seperti Jakarta,
Surabaya, Bandung, dll. Di beberapa daerah kota besar di Indonesia
memiliki beragam Perguruan Tinggi baik itu Perguruan Tinggi Negeri
sampai dengan Perguruan Tinggi Swasta.

Dari
beragam Perguruan Tinggi yang ada di daerah kota besar, masing-masing
memiliki keunggulan yang berbeda. Sebagian individu pada masa ini
memiliki keinginan yang besar untuk meningkatkan potensinya dengan
melanjutkan pendidikannya menjadi lebih baik dan berkualitas. Hal ini
yang menyebabkan individu-individu tersebut berlomba-lomba untuk
dapat melanjutkan ke Peruguran Tinggi terbaik sesuai dengan pilihan
dan keinginannya, meskipun berada di daerah di luar dari tempat
tinggalnya. Mereka memberanikan diri untuk keluar dari lingkungan
tempat tinggalnya dan berpindah di lingkungan baru untuk mendapatkan
pengalaman yang baru dan melatih diri agar lebih mandiri.

Kita
ketahui bahwa kota Malang merupakan salah satu kota yang cukup besar
di Indonesia, di mana kota Malang merupakan kota terbesar kedua
setelah kota Surabaya di wilayah Jawa Timur. Kota Malang memiliki
berbagai Perguruan Tinggi baik itu negeri maupun swasta, sehingga
kota Malang dikenal dengan baik sebagai kota pendidikan. Hal ini
menyebabkan banyak individu baik dari daerah kota Malang maupun dari
luar kota Malang yang berkeinginan untuk berkuliah di kota ini.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik kota Malang bahwa dari
tahun 2010 hingga tahun 2016 jumlah penduduk di kota Malang bertambah
sebesar 0.72% pertahun. Pada Desember 2015 penduduk Kota Malang
berjumlah sebesar 881.794 jiwa. Sedangkan, hingga akhir April 2016
penduduk Kota Malang berjumlah sebesar 887.443 jiwa
(suryamalang.tribunnews.com)

Menurut
Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dispendukcapil) memprakirakan,
sekitar 3.000 orang yang tinggal di Kota Malang berasal dari para
mahasiswa dan pekerja dari luar kota. Ini terlihat jelas bahwa
pertumbuhan jumlah mahasiswa di Kota Malang rata-rata meningkat
sekitar 5-10% setiap tahunnya. Khusus untuk Universitas Muhammadiyah
Malang, memiliki mahasiswa maupun mahasiswi yang berasal dari luar
kota Malang bahkan dari luar negeri sebesar 70% setiap tahunnya
(suryamalang.tribunnews.com).

Sebagian
besar masyarakat di Kota Malang berasal dari suku Jawa. Suku jawa
memiliki adat istiadat maupun bahasa daerah yang cukup berbeda.
Khusus bagi mahasiswa perantau dari luar daerah Jawa akan cukup
mengalami kesulitan dalam beradaptasi dengan budaya baru terutama
budaya Jawa. Hal utama yang akan dilakukan mahasiswa perantau yaitu
mereka harus mampu mengenal dan menyesuaikan diri dengan bahasa di
lingkungan sekitarnya untuk dapat berinteraksi dengan orang-orang
setempat.

Dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005; dalam Lingga, 2012), merantau
memiliki arti yaitu pergi ke negeri lain untuk mencari penghidupan
serta ilmu. Sedangkan menurut Santrock (dalam Lingga, 2012)
menyatakan fenomena mahasiswa perantau umumnya bertujuan untuk meraih
kesuksesan melalui kualitas pendidikan yang lebih baik pada bidang
yang diinginkan. Fenomena ini juga dianggap sebagai usaha pembuktian
kualitas diri sebagai orang dewasa yang mandiri dan bertanggung jawab
dalam membuat keputusan. Dalam proses pendewasaan dan mencapai
kesuksesan, mahasiswa perantau dihadapkan pada berbagai perubahan dan
perbedaan diberbagai aspek kehidupan yang membutuhkan banyak
penyesuaian.

Rentang
Usia mahasiswa untuk strata 1 (S1) pada umumnya berkisar antara 18-25
tahun. Dalam kategori psikologi berada pada masa remaja akhir yang
berusia 18-21 tahun dan mulai memasuki masa dewasa awal pada usia 22
tahun. Masa ini disebut sebagai masa transisi (emerging adulthood)
dari masa remaja menuju ke dewasa dengan usia dari 18-25 tahun
(Arnett, 2007 dalam Santrock, 2012). Pada masa ini, seseorang akan
mulai berpikir secara matang untuk menata kehidupan selanjutnya
seperti halnya menentukan jalur karir yang diinginkan dengan memilih
pendidikan yang tepat sesuai dengan keinginannya untuk bekal di masa
depan.

Khusus
pada mahasiswa perantau harus memiliki human relation yang
baik agar ia dapat diterima oleh lingkungan barunya, sehingga ia
dapat melakukan penyesuaian diri. Mahasiswa perantau dituntut untuk
dapat bertahan hidup di lingkungan baru tempat ia memilih untuk
melanjutkan pendidikannya. Sebab, mereka akan dihadapkan dengan
berbagai perubahan-perubahan yang dialami tidak hanya berasal dari
budaya baru tetapi juga beberapa lainnya diantaranya, seperti
perubahan dalam berinteraksi, perubahan dalam beraktivitas, perubahan
dalam melaksanakan kewajibannya di lingkungan perkuliahan. Semua
perubahan tersebut mencangkup perubahan dalam pola hidup mereka.

Penyesuaian
diri menurut Fatimah (2008) yaitu proses bagaimana individu mencapai
keseimbangan diri dalam memenuhi kebutuhan sesuai dengan lingkungan.
Namun, penyesuaian diri tidak dapat dicapai secara sempurna. Sebab,
penyesuaian terjadi jika individu mampu berada dalam keadaan seimbang
antara dirinya dengan lingkungannya di mana tidak ada lagi kebutuhan
yang tidak terpenuhi. Individu tidak akan terlepas dari perasaan
tidak menyenangkan. Melalui penyesuaian diri, individu nantinya akan
merasa terdorong untuk memenuhi kebutuhannya dan terlepas dari
perasaan tidak menyenangkan tersebut. Karena, penyesuaian diri
merupakan suatu proses psikologis sepanjang hayat (life long
process) dan manusia akan berupaya menemukan dan mengatasi
tekanan maupun tantangan hidup untuk mencapai pribadi yang sehat.

Menurut
Sunarto & Hartono (2008) penyesuaian diri merupakan suatu proses.
Di mana, salah satu ciri pokok kepribadian yang sehat mentalnya ialah
memiliki kemampuan untuk mengadakan penyesuaian diri secara harmonis,
baik terhadap diri sendiri maupun terhadap dirinya. Mahasiswa
perantau tentu akan mengalami proses yang tidak mudah ketika harus
berhadapan dengan lingkungan baru, namun sejalan dengan penyesuaian
yang dilakukan tentu akan dapat dijalankan oleh mereka secara
harmonis.

Kemampuan
penyesuaian diri khususnya pada mahasiswa perantau akan berbeda
dengan mahasiswa non perantau. Hal ini disebabkan mereka akan lebih
mendapatkan banyak adaptasi tidak hanya pada saat perkuliahan
berlangsung, tetapi juga berasal dari lingkungan di sekitar tempat ia
tinggal. Hal ini sejalan dengan pernyataan Fitriyani (2008)
menyatakan bahwa penyesuaian diri sosial sangat diperlukan oleh
mahasiswa perantauan, karena mahasiswa perantauan menghadapi
perubahan di lingkungan baru yang berbeda adat, norma, dan
kebudayaan, sehingga penyesuaian diri yang baik dibutuhkan agar
diterima oleh masyarakat sekitar.

Shafira
(2015) dalam penelitiannya menyatakan bahwa
individu dikatakan memiliki kemampuan penyesuaian diri yang baik
(well adjusted person) jika mampu melakukan respons-respons
yang matang, efisien, memuaskan, dan sehat. Di mana, pada mahasiswa
perantau yang mampu melakukan respons dengan mengeluarkan tenaga dan
waktu dengan cermat dikatakan sebagai individu yang efisien.
Sedangkan, mahasiswa perantau yang dapat menyeimbangkan antara
hubungannya dengan orang-orang disekitarnya dikatakan sebagai
individu yang sehat. Artinya, mahasiswa perantau yang dipandang dapat
melakukan penyesuaian diri yang baik adalah rmahasiswa yang telah
belajar bereaksi terhadap dirinya dan lingkungan barunya.

Mahasiswa
yang memilih untuk merantau di lingkungan yang baru mulai memiliki
pemikiran yang matang. Mereka memilih untuk jauh dari orang tua untuk
dapat meraih cita-citanya dan hidup mandiri. Mahasiswa perantau dalam
hal ini sudah memiliki bekal sebelum tinggal secara terpisah dengan
orang tuanya. Bekal tersebut berasal dari kelekatan keluarga yang
telah dipupuk sejak dini. Sunarto & Hartono (2008) menyatakan
bahwa tingkat penyesuaian diri dan pertumbuhan/ perkembangan remaja
tergantung pada sikap orang tua, dan kondisi lingkungan keluarga.
Orang tua yang otoriter akan menghambat dalam perkembangan
penyesuaian remaja.

Fatimah
(2008) mengungkapkan salah satu faktor lingkungan yang dapat
menciptakan penyesuaian diri adalah lingkungan di keluarga. Kelekatan
individu dengan keluarga merupakan kebutuhan pokok untuk perkembangan
jiwa dan sangat berpengaruh terhadap kemampuan menyesuaikan diri.
Faktor keluarga merupakan faktor yang paling utama dan sangat penting
karena keluarga merupakan media sosialisasi yang pertama bagi anak.
Hasil dari sosialisasi tersebut dikembangkan di lingkungan sekolah
dan masyarakat umum.

Orang
tua yang selalu memberikan perhatian dan mengawasi anak-anaknya
dengan baik, maka anak-anaknya akan merasa mendapatkan kenyamanan dan
rasa aman selama berada didekat orang tuanya. Hal lainnya yang
didapatkan di lingkungan keluarga adalah tidak menjadi individu yang
egois, selalu terbuka, berbagi dengan keluarga, belajar menghargai
orang lain, belajar cara bergaul dan berinteraksi dengan orang lain,
mempelajari adat dan kebiasaan serta norma dalam kehidupan
sehari-hari. Semua bekal yang ada di dalam lingkungan keluarga sangat
diperlukan didalam menjalani kehidupan bermasyarakat dan mengeksplor
diri individu menjadi lebih baik.

Menurut
Singh (2015) dalam penelitiannya, kelekatan orang
tua-anak berfungsi sebagai prototipe atau pondasi utama yang
berhubungan dengan masa depan anak. Inilah hubungan pertama yang
digunakan anak sebagai wadah untuk diterapkan pada pengalaman yang
berhubungan dengan masa depan. Singkatnya, kualitas hubungan awal
memprediksi hubungan selanjutnya, dan kesuksesan dalam hubungan
selanjutnya berakar pada pengembangan umur. Hal ini tentu akan
menjadi awal pondasi bagi mahasiswa perantau didalam melakukan
penyesuaian diri untuk meraih pendidikan di luar tempat tinggalnya.

Attachment
merupakan sebuah istilah yang pertama
kali diperkenalkan oleh J. Bowlby tahun 1958 untuk menggambarkan
pertalian atau ikatan antara ibu dan anak (Johnson & Medinnus,
1974; dalam Desmita, 2016). Menurut Santrock (2012) kelekatan awal
merupakan hal yang penting dalam perilaku sosial di kemudian hari.
Kelekatan awal akan berpengaruh terhadap kesehatan emosional,
tingginya harga diri, dan keyakinan diri serta kompetensi dalam
interaksi sosial dengan kawan, guru, konselor kampus, dan kekasih
pada masa remaja. Josseph Allen, dkk (2009, dalam Santrock, 2012)
juga menyebutkan bahwa remaja yang mengalami kelekatan yang aman akan
cenderung mengalami relasi yang eksklusif, merasa nyaman dengan
keintiman dalam relasi, dan independensi keuangan yang meningkat pada
usia 21 tahun.

Gemeay,
dkk (2015) dalam penelitiannya menyatakan bahwa kelekatan orang tua
telah mempengaruhi prestasi akademik dan hasil pendidikan siswa.
Meskipun kelekatan rendah pada orang tua dan teman sebaya bukanlah
satu-satunya prediktor kinerja akademis yang buruk, keterikatan yang
kuat ditemukan untuk memengaruhi rasa percaya diri siswa dan
meningkatkan harga diri yang lebih tinggi. Artinya, ketika individu
mampu memiliki hubungan yang baik dengan lingkungan baru
disekitarnya, individu tersebut memiliki kepercayaan yang tinggi
didalam dirinya untuk mendorong terbentuknya keterampilan sosial.
Individu tersebut akan dengan cepat dalam memulai interaksi dengan
orang baru tanpa adanya perasaan malu ataupun takut. Keterampilan
sosial tersebut dapat berupa menyapa orang lain, berbicara santun
kepada orang lain, dan menghargai orang lain.

Dalam
penelitian Kocayoruk & Simsek (2016), menyatakan bahwa kelekatan
orang tua memiliki hubungan secara signifikan dengan penyesuaian
remaja. Secara khusus, hasilnya menunjukkan bahwa penyesuaian
merupakan mediator yang signifikan dalam hubungan dengan kelekatan
orang tua. Pada penelitian ini menunjukkan bahwa remaja yang memiliki
hubungan kelekatan dengan orang tua akan cenderung memiliki model
kerja yang positif dan cenderung mengekspresikan perasaan mereka
dengan menunjukkan perilaku sosial yang lebih positif. Individu
tersebut juga nantinya memiliki kecenderungan untuk percaya bahwa
orang lain akan ada dalam berbagi perasaan, berinteraksi, dan
menjalin persahabatan (Brown, Higgins, & Paulsen, 2003; dalam
Kocayoruk & Simsek, 2016). Sedangkan, individu yang memiliki
kelekatan dengan orang tua yang rendah akan mengalami kesulitan dalam
mengekspresikan perasaan mereka dan mengalami kesulitan didalam
mengurangi perasaan keterasingan di lingkungan sekolah (Kocayoruk &
Simsek, 2016).

Selain
itu, dalam penelitian Anderson (2016) juga menunjukkan bahwa
kelekatan aman mengurangi dampak gejala gangguan psikologis seperti
stres, kecemasan, dan terisolasi/terasingkan selama masa transisi dan
penyesuaian ke Perguruan Tinggi. Adanya kelekatan yang aman dari
hubungan keluarga ini berkaitan erat dengan penyesuaian diri sehingga
individu dapat lebih mengeksplor dirinya. Dalam teori kelekatan,
stres dapat meningkatkan perasaan akan perlunya keterikatan, terutama
bagi siswa yang tinggal jauh dari rumah (Kenny, 1994; dalam Anderson,
2016). Keterikatan yang aman memberikan kepercayaan diri bagi siswa
untuk berhasil bahkan ketika jauh dari rumah. Dalam penelitian ini
juga menunjukkan bahwa kelekatan yang kuat pada keluarga dapat
mengakibatkan menurunnya stres dan kecemasan pada masa remaja akhir.
Siswa dengan kelekatan orang tua yang kuat akan memandang diri mereka
memiliki harga diri yang lebih tinggi, memiliki tekanan yang rendah,
dan mengalami transisi dengan mudah saat ke perguruan tinggi (Kenny &
Donaldson, 1991; dalam Anderson, 2016). Akibatnya, kelekatan yang
tinggi akan mengakibatkan penyesuaian diri lebih baik.

Mahasiswa
perantau umumnya akan mengalami tekanan yang cukup tinggi akibat
segala kebutuhan yang ia harus dipenuhi tersebut berasal dari dirinya
sendiri tanpa adanya bantuan dari orang tua. Namun, hubungan
kelekatan orang tua yang telah terjalin dan berproses selama rentang
kehidupannya dapat mengurangi dampak dari tekanannya tersebut.
Artinya, mahasiswa perantau dapat lebih mudah untuk beradaptasi di
lingkungan baru akibat dari hubungan kelekatan orang tua yang kuat
selama proses kehidupannya.

Al-Khatib
(2012) dalam penelitiannya menyatakan bahwa penyesuaian dengan
kehidupan di Universitas dianggap sebagai salah satu indikator utama
keberhasilan hidup di Universitas karena ini merupakan indikator
kemampuan mahasiswa untuk menghadapi masalah akibat memenuhi
kebutuhan akademik, sosial dan emosional yang tersembunyi. Dengan
mencapai penyesuaian diri dengan kehidupan di Universitas, para
mahasiswa akan dapat membentuk semacam hubungan baik dengan orang
lain di Universitas sehingga dia dapat meningkatkan prestasi
akademiknya.

Kita
dapat ketahui bahwa individu dengan kelekatan orang tua yang tinggi
akan mampu menyesuaikan diri terhadap lingkungannya di mana ia berada
dan dapat mengeksplor dirinya dengan baik. Hal ini dikarenakan
munculnya kepercayaan diri dalam dirinya yang berasal dari hubungan
lekat dari orang tua. Kepercayaan diri ini akan memudahkan individu
didalam bergaul dan menjalin hubungan dengan orang-orang disekitarnya
di lingkungan yang baru. Selain itu, selama individu tersebut
memiliki kelekatan yang baik dengan orang tuanya akan berpengaruh
terhadap kompetensi dan keterampolan sosial pada individu tersebut.
Kompetensi dan keterampilan sosial diperlukan didalam menjalin
hubungan dengan orang lain. Hal ini tentu akan berpengaruh terhadap
kemudahan individu didalam melakukan penyesuaian diri.

Dalam
hal ini, peneliti berkeinginan untuk melakukan penelitian terkait
dengan hubungan kelekatan orang tua dengan penyesuaian diri pada
mahasiswa perantau. Pada penelitian sebelumnya, Ulfida (2010)
melakukan penelitian serupa mengenai hubungan kelekatan orang tua
dengan penyesuaian diri pada remaja. Hasil dari penelitian ini
memberikan hubungan yang positif antara kelekatan orang tua dengan
penyesuaian diri pada remaja yang dikhususkan pada mahasiswa UMM baru
angkatan 2008. Namun, berbeda dengan penelitian yang akan peneliti
lakukan yaitu berfokus pada mahasiswa perantau yang berasal dari luar
kota Malang. Hal ini dikarenakan peneliti melihat bahwa mahasiswa
perantau akan mengalami penyesuaian yang sangat beragam dibandingkan
dengan mahasiswa lokal.

Berdasarkan
uraian tersebut, dapat dirumuskan masalah yang akan diangkat dalam
penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat hubungan
antara kelekatan orang tua dengan penyesuaian diri pada mahasiswa
perantau. Selanjutnya tujuan dari penelitian ini yaitu untuk
mengetahui hubungan antara kelekatan orang tua dengan penyesuaian
diri pada mahasiswa perantau. Dalam penelitian ini terdapat dua
manfaat yaitu manfaat secara teoritis dan praktis. Secara teoritis,
hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi penulis
dalam menjawab dan membahas isu yang telah diangkat mengenai hubungan
kelekatan orang tua dengan penyesuaian diri mahasiswa perantau.
Selain itu, memberikan sumbangan pemikiran dalam hal menambah wawasan
informasi/referensi mengenai konsep teori-teori hubungan kelekatan
dan penyesuaian diri yang dikhususkan pada perkembangan ilmu dalam
ruang lingkup Psikologi khususnya dalam bidang Psikologi
Perkembangan. Sedangkan secara praktis, penelitian ini diharapkan
dapat memberikan manfaat bagi mahasiswa perantau. Dimana, hasil
penelitian ini diharapkan dapat menjadi pengetahuan dan masukan bagi
mahasiswa perantau untuk pentingnya membentuk hubungan kelekatan
dengan orang tua sehingga anak dapat lebih menyesuaikan diri terhadap
lingkungan di sekitarnya. Dan untuk pihak lain diharapkan penelitian
ini dapat membantu menambah informasi dalam menyajikan informasi
untuk penelitian selanjutnya.

Post Author: admin

x

Hi!
I'm Eunice!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out