Site Loader
Rock Street, San Francisco

Eksistensi berawalan dari kata dasar adalah ‘exist’ yang berasal
dari bahasa Latin ‘ex’ , yang berarti keluar dan ‘sistere’ yang berarti
berdiri. Oleh karena itu, eksistensi dapat diartikan dengan berdiri dengan cara
keluar dari diri sendiri. Dengan keluar dari dirinya sendiri, manusia akan
menyadari tentang dirinya sendiri apakah ia berdiri sebagai aku atau pribadi.
Cara manusia untuk menyatakan eksistensinya pun berbeda tergantung dari
masing-masing individu itu sendiri.

Eksistensialisme merupakan aliran filsafat yang pahamnya berpusat
pada manusia atau individu dan bertanggung jawab atas keinginan bebasnya tanpa
memikirkan mana yang benar dan mana yang tidak benar. Benar atau salahnya
sesuatu bagi seseseorang yang eksis-tensialis adalah bersifat relative. Oleh
karena itu, masing-masing individu diperbolehkan menentukan sesuatu yang
menurutnya mungkin benar. Eksistensialisme sendiri adalah satu dari sekian
aliran besar yang terdapat dalam ilmu filsafat, khususnya tradisi filsafat di
bagian Barat. Eksistensialisme membahas tentang keberadaan manusia, dan
keberadaan itu sendiri muncul lewat kebebasan.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Menjadi seorang yang eksistensialis intinya adalah harus sadar
bahwa keberadaan dunia adalah sesuatu yang berada diluar kendali manusia. Di
samping itu, eksistensialisme dapat juga dipahami sebagai suatu usaha yang
dilakukan untuk membangun suatu sistem filsafat yang berawalan dari manusia itu
sendiri sebagai ‘pencipta’ dan penentu atas pemikiran dan segala sesuatu yang
berkeliaran dalam lingkaran kehidupan. Seorang eksistensialis memiliki
kepercayaan bahwa setiap manusia memiliki kapasitas eksistensi yang
berpotensial bagi kehidupannya.

Bagaimana tanggapan saya tentang makna eksistensi saya di dunia
ini? Sebelum saya memaknai eksistensi saya, ada beberapa filsuf yang memilih
untuk beraliran Eksistensialisme, diantaranya adalah:

1.      
Soren
Aabye Kierkegaard

Soren Aabye Kierkegaard, filsus
yang lahir pada tahun 1813 di Kopenhagen, Denmark. Kierkegaard merupakan  anak terakhir dari tujuh bersaudara. Pada masanya
Kierkegaard lahir, saat itu pula pengaruh nasionalis dari Kant dan Hegel ‘menguasai’
Gereja Luther secara mutlak, yang pada akhirnya menjadi dominasi di bangsa
Belanda. Kierkegaard sempat ingin menikahi tunangannya, yaitu Regine. Tetapi,
Kierkegaard merasa dirinya tidak cocok berada dalam kehidupan berumah tangga.
Oleh karena itu, Kiergaard memutuskan untuk tidak jadi menikahi Regine.

Kierkegaard merupakan filsuf
pertama yang mengenalkan tentang istilah “eksistensi”, hal ini menurut
pengertian yang dipakai pada abad ke-20 dalam aliran yang disebut
eksistensialisme. Filsafat eksistensialisme yang dicetuskan oleh Kierkegaard
bermula dari pertentangan akan adanya filsafat idealisme Jerman.
Eksistensialisme ini merupakan ‘pemberontakan’ terhadap Idealisme yang
menyamaratakan tentang pesoalan realitas manusia. Hal tersebut ternyata
mengabaikan eksistensi secara individual.

Kierkegaard berpendapat bahwa
sejatinya manusia tidak pernah hidup sebagai “Aku (dalam artian umum)” tetapi
“Aku (dalam artian Individual)”. Eksistensi bukanlah sebuah ‘ada’ yang statis,
melainkan sesuatu ‘menjadi’ yang di dalamnya terdapat makna suatu perpindahan
yaitu dari sebuah “kemungkinan” menjadi sebuah “kenyataan”. Menurutnya, istilah
kata “eksistensi” hanya dapat diterapkan pada diri manusia sebagai individu
yang konkrit. Aku yang konkrit ini rupanya tidak bisa direduksi kepada
realitas-realitas lain, Hanya aku yang konkrit lah yang berhak mengambil
keputusan secara eksistensial, dan tidak ada satu pun orang lain yang dapat
menggantikan tempat ‘Aku’ yang konkrit ini untuk bereksistensi. Dengan kata
lain, eksistensi adalah “diri yang autentik”.

Kierkegaard membagi tahapan
eksistensi menjadi 3, yaitu:

Tahap Estetis

Pada tahap ini, seseorang manusia akan
berkelakuan menuruti hati dan emosi atau perasaan-perasaan, dan biasanya
bertindak menurut suasana hati. Model manusia yang seperti inilah tidak
mempunyai komitmen dan keterlibatan apapun dalam hidupnya. Ia tidak mempunyai gairah dalam menyikapi, melanjuti,
dan menyelesaikan suatu permasalahan atau persoalan.

Tahap Etis

Di tahap ini, individu mulai menerima
kebaikan-kebaikan secara moral dan memilih untuk mengikatkan diri padanya. Banyak
orang juga mulai menghayati nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Pada tahap
ini pula sudah ada gairah dalam
menjalani kehidupan ini yang berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan yang
dipilihnya secara bebas. Namun bagi Kierkegaard, orang yang hidup pada level
ini masih belum sempurna. Realiatas tempat dimana ia menggabungkan atau
meleburkan diri adalah baru realitas fana. Karena itulah, sesungguhnya manusia
masih harus melalui satu tahap terakhir yang paling sempurna, yakni tahap
religius.

Tahap Religius

Keautentikan manusia sebagai ‘aku’ atau
subyek baru dapat diraih kalau individu menyatuhkan diri dalam suatu realitas
Tuhan. Lompatan ini sejatinya memang lebih sulit daripada lompatan dari tahap
estetis ke tahap etis. Hal utama yang harus dilakukan dalam melakukan lompatan
ini adalah pertimbangan yang sangat subyektif, yaitu dengan iman. Hanya manusia
yang memiliki iman lah yang bias untuk memasuki tahap ini.

Makna Eksistensi Saya Menuru
Eksistensialisme Kierkegaard

Bereksistensi
bagi saya adalah dengan merealisasikan diri, mengikat diri saya dengan bebas,
lalu menjalankan keyakinannya, dan mengisi kebebasan saya sendiri. Hal
terpenting bagi saya adalah keadaan saya sendiri atau eksitensi saya sendiri.
Eksistensi saya sebagai manusia adalah suatu eksistensi yang saya pilih dalam
kebebasan. Dalam bereksistensi berarti saya bereksistensi atau ber’ada’ dalam
suatu perbuatan yang mungkin dan pasti dilakukan setiap manusia bagi dirinya
sendiri, contoh mudahnya seperti berani mengambil keputusan untuk menentukan
hidup. Tidak ada satu orang pun yang berhak menentukan hal tersebut terkecuali
saya sendiri. Mungkin ada peran orang tua di dalamnya, namun ketika tanggung
jawab orang tua atas saya selesai, saya lah yang mutlak berhak menentukannya.

Saya tidak perlu menjadi orang lain
agar disukai orang lain. Yang terpenting bagi saya pribadi adalah saya
mengusahakan diri saya supaya pola pikir dan perilaku saya tersebut sesuai
dengan tuntutan umum di masyarakat tanpa melanggar norma dan hukum. Hidup saya
adalah sebuah rangkaian fakta-fakta yang ada. Hidup saya adalah sebuah rangkaian
keputusan dan komitmen saya pribadi pada nilai-nilai.

2.      
Jean
Paul Sartre

Jean
Paul Charles Aymard Leon Eugene Sartre lahir pada tahun 1905 di Paris, Prancis.
Ayahnya seorang penganut agama Katolik, sedang ibunya beragama Protestan. Meskipun lahir di
keluarga yang religious, nyatanya Sartre malah anti dengan agama dan sesuatu
yang disebut Tuhan. Corak filsafat Sartre adalah corak atheis dan dipengaruhi
oleh aliran rasionalis dan idealis. Sartre mencetuskan gagasan filsafatnya
secara bertahap. Pada tahap pertama, gagasannya bercorak pemikiran fenomenologi
dan hal tersebut diperngaruhi oleh gagasan Husserl dan Martin Heidegger.
Seperti yang terdapat pada karyanya tentang L’Imagination (1936) yang berisi tentang analisa terhadap
kesadaran. Pada tahap kedua terbitlah karyanya yang berjudul Being and Nothingness (1943). Dalam
karya ini, Sartre menggunakan analisa yang dikeluarkan oleh Martin Heidegger
tentang ‘Dasein’ untuk
memperkenalkan tentang kesadaran manusia. Lalu terakhir pada tahap ketiga, pandangan Sartre lebih
condong ke Marxism dan mengkritik dialektika Marx, bahwa individu harus
dipandang sebagai kebebasan dan harus belajar lebih tentang eksistensialisme.

 

Menurut Sartre, eksistensialisme
memiliki pendapat bahwa fokus eksistensialisme adalah eksplorasi terhadap
kehidupan dunia pada makhluk sadar. Dalam pandangan Eksistensialisme Sartre,
menyatakan bahwa aku ini bukan apa-apa selain eksistensi sadarku sendiri.
Eksistensialisme Sartre sendiri memusatkan perhatian pada subjek dan menandaskan
pentingnya keterlibatan subjek dalam pengalaman manusia. Eksistensialisme
Sartre mengungap bahwa eksistensilah yang mendahului esensi yang berarti
menekankan eksistensi aku sebagai subyek yang memiliki kesadaran, bukanlah yang
mengutamakan esensi yang berlaku pada diriku, seperti definisi mengenai aku dan
segala penjelasan mengenai aku melalui berbagai ilmu pengetahuan. Dengan
demikian, eksistensialisme membicarakan persoalan mengenai manusia secara
konkrit, lokal dan bukan manusia abstrak, konseptual atau pun universal.

Sartre menekankan bahwa keberadaan manusia di
dunia ini memiliki berbagai macam kemungkinan untuk mencapai kepenuhan atas
keberadaannya atau eksistensinya. Manusia memiliki kelebihan yang tidak
dimiliki oleh makhluk lainnya, yaitu manusia memiliki pilihan dan memiliki
kemampuan untuk memilih. Manusia itu sendiri lah yang menentukan pilihan untuk
menggerakan diirnya, bukan diarahkan oleh sesuatu di luar dirinya. Dan manusia
itu sendiri lah yang mempertanggungjawabkan hal itu.

Kesadaran manusia sejatinya didasari oleh
keberadaan dirinya yang memiliki berbagai macam kemungkinan untuk memaknai
dunia mereka. Oleh karena itu, manusia dapat mengarahkan dirinya kemana saja,
melakukan apa saja dan menjadi apa saja sesuai yang diinginkannya. Eksistensi
atau keberadaan manusia lah yang memungkinkan dirinya untuk memilih sesuatu
yang diinginkannya berdasarkan kebebasan mereka.

Meskipun pendapat
Sartre bertentangan dengan hak manusia yang lain,namun kebebasan tersebut
berdampak baik bagi eksistensi manusia itu sendiri, keberadaan manusia yang
sejati. Sartre menekankan bahwa kita menjadi diri kita sendiri hanya mungkin
terjadi jika kita memilih sendiri dan menentukan sendiri bentuk eksistensi yang
kita inginkan. Manusia sendiri memiliki kebebasan yang sebebas-bebasnya untuk
mengubah situasi melalui perbuatan dan usaha yang dipilih dan ditentukan oleh
manusia itu sendiri. Kebebasan tidak mungkin dapat terwujud tanpa
situasi-situasi yang sudah tersedia atau situasi-situasi yang tidak dipilih
oleh dirinya sendiri.

Makna Eksistensi Saya Menurut
Eksistensialisme Sartre

Dari penjelasan
mengenai eksistensialisme yang dicetuskan oleh Jean Paul Sartre, bahwa saya
sebagai manusia memliki kebebasan dalam menentukan pilihan, bahkan menurut
Sartre sendiri, manusia itu terlahir dikutuk untuk bebas, namun semua pilihan
kebebasan tersebut tetap harus mementingkan keadaan sekitar tanpa ada pihak
yang dirugikan. Hampir sama seperti makna eksistensialisme menurut Kierkegaard,
selama saya menjadi tanggung jawab orang tua, memang orang tua terlibat
terhadap keputusan saya. Kebebasan yang saya jalani juga harus disertai dengan
tindakan secara terus menerus, karena sejatinya manusia adalah mahluk yang
menindak dan untuk menindak tersebut terkait dengan kesadaran
akan dunia. Saya juga ‘ágak’ setuju dengan pendapat Sartre yang menyatakan
bahwa ‘orang lain adalah kehancuranku’ karena memang saya pun sering
memerhatikan apa kata orang lain, yang berujung saya sendiri yang rugi karena
terlalu memikirkan perkataan orang lain terhadap saya karena seharusnya kita
tak perlu menjadi orang lain agar disukai, tetapi jadilah diri sendiri.

3.       Martin Heidegger

 

Martin
Heidegger lahir pada tanggal 26 September 1889 di kota kecil Messkirch Baden,
Jerman. Menurut Martin Heiddegger, eksistensialisme cenderung lebih dikenal
sebagai bentuk berfilsafat yang pokok utamanya adalah manusia dan cara
beradanya di tengah-tengah makhluk lain. Heidegger sendiri dianggap sebagai
filsus yang mempunyai pengaruh yang besar atau tidak dapat diabaikan terhadap
filsafat eksistensialisme. Ia berusaha untuk memberi makna keberadaan atau apa
artinya bagi manusia untuk menjadi berada. Menurut Heidegger, manusia dapat
hidup secara otentik dan memusatkan perhatiannya pada kebenaran yang dapat ia
ungkapan, menghayati kehidupannya serta begitu memandang hidupnya dengan
perspektif yang baru.

Eksistensi
sendiri menurut Heidegger adalah keadaan actual atau nyata yang terjadi dalam
ruang dan waktu. Eksistensi merujuk kepada “suatu benda yang ada di sini dan
sekarang”. Eksistensi memiliki arti bahwa jiwa atau manusia kehidupannya dan keberadaannya
diakui. Sementara esensi adalah sebaliknya, yaitu sesuatu yang membedakan
antara suatu benda dengan benda yang lainnya. Esensi adalah yang menjadikan
benda tersebut seperti apa adanya.

Subjek
dari manusia menurut Heidegger adalah kesadaran akan dirinya sendiri. Nah, kata
kesadaran inilah yang menjadi kunci dalam filsafat Heidegger. Ia juga yang
mengemukakan istilah dasein bagi manusia yang berarti  manusia adalah ‘Ada disana’. Manusia tidak
ada begitu saja tetapi berkaitan dengan adanya itu sendiri. Manusia itu sadar
akan adanya dibandingkan dengan makhluk lain. Dalam filsafat eksistensialisme,
Heidegger menjelaskan bahwa Dasein itu sendiir dicirikan sebagai eksistensi dan
berada dalam dunia. Struktur dasar dari Dasein lah disebutnya sebagai yang
eksistensialis. Sehubungan dengan hal ini, Heidegger memberikan penjelasan
panjang tentang kejadian kematian. Dia menjelaskan bahwa Dasein merupakan ada
yang menuju kepada kematian. Di sini juga Heidegger menekankan bahwa
temporalitas dari Dasein itu adalah orientasi pada masa yang lalu, sekarang
serta waktu yang akan datang nanti, dan semuanya dikaitkan dengan konsep masa
yang akan datang.

Menurutnya juga, waktu adalah tahap-tahap yang tidak dapat dipisahkan
antara masa lalu, sekarang dan waktu masa depan. Dalam rentang waktu itulah
seseorang selalu berada dalam kemungkinan- kemungkinan. Potensi ini menjadi jalan
lain bagi manusia untuk melakukan sesuatu. Dalam kondisi seperti itu pula lah
manusia akan ada pengalaman atas ketiadaan dan ada hal-hal yang bahkan belum
terlaksanakan. Nah, hal yang belum terlaksanakan itulah yang nantinya akan
menimbulkan perasaan cemas dalam diri manusia. Tindakan pengetahuan manusia
tidak dapat terpisah dengan benda-benda yang ada di sekitarnya. Heidegger juga mengatakan
bahwa dunia luar yang terdiri banyak objek hanya digunakan pada setiap tidakan
dan tujuan kegiatan manusia. Ide tentang waktu dihubungkan dengan subjektif
manusia.

Heidegger
juga berpandangan bahwa manusia merupakan sebagai makhluk yang terlempar di
dunia seolah-olah dadu. Manusia diibaratkan seolah hidup di tempat yang di
antara jurang yang sangat dalam. Manusia sejatinya berada diantara ‘Ada’ dan
‘Tiada’. Manusia ada karena hidup di dunia dan tiada karena akan berakhir
dengan kematian. Kegelisahan dan kecemasan manusia akan pengalaman ketiadaan
itu lah yang justru menyadarkan manusia itu sendiri.

Ada
8 tema-tema eksistensi menurut Heidegger, yaitu:

o   
Eksistensi sebagai Milik Pribadi dan Berada
dalam Waktu

o   
Ada-dalam-dunia

o   
‘Orang'(Das Man atau Manusia Impersonal)

o   
Suasana Hati dan Faktisitas

o   
Kecemasan dan Ketiadaan

o   
Kematian dan Hati Nurani

o   
Keprihatinan dan Temporalitas

o   
Historisitas

 

Makna Eksistensi Saya Menuru Eksistensialisme Martin
Heidegger

Eksistensi saya disini merujuk pada pengalaman akan
realitas dan berbagai dimensi kehidupan yang saya jalani sekarang ini. Kemudian
menunjuk kepada bahwa kesadaran saya sebagai manusia dalam bertindak dan
memilih dapat menciptakan dan mengekspresikan identitas diri saya sendiri. Dan
dalam proses bertindak dan memilih inilah saya sendiri dituntut sebagai orang
yang bertanggung jawab akan hal tersebut. Disini, pengalaman menjadi hal kuat
dalam hidup saya, mulai dalam pemenuhannya hingga dalam kesulitannya. Eksistensi
saya juga lah yang menentukan pengertian saya sebagai manusia terhadap diri
saya sendiri yang independen terhadap pilihan bebas saya sendiri. Maka dari
itu, eksistensi saya sebagai manusia itu adalah sebagaimana adanya saya dalam
dunia ini. Saya hidup disini, di dunia ini, pada zaman ini, atau dimana pun dan
kapan pun saya hidup, pada akhirnya pun saya akan mati.  Semua hal ini bahkan sudah exist sebelum
adanya kebebasan manusia itu sendiri. Saya sebagai manusia harus berhadapan
dengan semua ini dan menyesuaikan diri dengan hal- hal ini. Cara berada manusia
itu berbeda-beda tiap individunya, dan inilah cara saya ‘berada’.

Sebenarnya masih
ada lagi filsuf lain yang beraliran eksistensialisme, tapi saya hanya mengambil
3 orang saja.

Post Author: admin

x

Hi!
I'm Eunice!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out