Site Loader
Rock Street, San Francisco

Air memiliki peranan yang
penting dalam dunia pertanian, dan seperti yang kita ketahui pertanian
mempunyai kontribusi penting di negara agraris seperti Indonesia, baik terhadap
perekonomian maupun terhadap pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat, apalagi
dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk yang berarti bahwa kebutuhan akan
pangan juga semakin meningkat. Keadaan iklim, suhu dan kelembaban yang cocok
untuk kebutuhan pertumbuhan tanaman pangan, sehingga hampir seluruh tanaman
pangan pokok tumbuh dengan relatif baik (Srirande dalam Tamaya, 2014).

Pengelolaan
air berperan sangat penting dan merupakan salah satu kunci keberhasilan
peningkatan produksi padi di lahan sawah. Produksi padi sawah akan menurun jika
tanaman padi menderita cekaman air (water stress) (Subagyono, dalam Fachri et al, 2012). Konsep
pengelolaan air dan sumber daya air pada dasarnya mencakup upaya serta kegiatan
pengembangan pemanfaatan dan pelestarian sumberdaya air. Berupa  menyalurkan (redistributing) air yang
tersedia dalam konteks ruang dan waktu, komponen mutu serta komponen volume
(jumlah) pada suatu wilayah untuk memenuhi kebutuhan pokok kehidupan makhluk
hidup (Mochtar dalam Fachri et al, 2012).

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Usaha
pendayagunaan air melalui irigasi memerlukan suatu sistem pengelolaan yang
baik, sehingga pemanfaatan air dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien, dilaksanakan
dengan prinsip satu sistem irigasi satu kesatuan pengembangan dan pengelolaan,
dengan memperhatikan kepentingan pemakai air irigasi dan pengguna jaringan
irigasi di bagian hulu, tengah, dan hilir secara selaras. (Ansori et al,
2013) Kebutuhan air irigasi akan ditentukan oleh umur dan jenis
tanaman yang akan ditanam serta cuaca yang terjadi, sehingga pengelolaan
jaringan irigasi akan mengikuti pola dan tanam.

Irigasi
mengurangi resiko kegagalan panen karena ketidakpastian hujan dan kekeringan,
membuat unsur hara yang tersedia menjadi lebih efektif, menciptakan kondisi kelembaban
tanah optimum untuk pertumbuhan tanaman, serta hasil dan kualitas tanaman yang
lebih baik. Sistem jaringan irigasi dibangun untuk memenuhi kebutuhan air
irigasi dan merubah sawah tadah hujan menjadi sawah beririgasi teknis (Nurrochmad,
2007).

Pertanian Indonesia umumnya adalah pertanian keluarga skala kecil dengan
rataan kepemilikan 0,35 ha. Untuk menuju kemandirian sebagai daerah otonom
tersebut, pemerintah daerah harus mampu menggali semua potensi yang
dimilikinya. Subsektor tanaman
pangan merupakan salah satu bagian dari sektor pertanian dan merupakan
penghasil komoditi strategis berupa beras yang menjadi makanan pokok sebagian
besar penduduk Indonesia (Anonim, 2005).

Padi merupakan
bahan pangan yang memberikan energi berupa karbohirat. Tidak dapat dipungkiri
bahwa padi menempati posisi yang sangat strategis bagi kehidupan masyarakat, di
satu sisi padi merupakan komoditi ekonomi yang menjadi sumber penghasilan
petani, serta pemenuhan kebutuhan bagi masyarakat lainnya. Keberadaan padi
sulit digantikan dan harus dalam jumlah yang memadai (Yanita dk, dalam
Muzdalifah, 2014). Tanaman padi adalah sejenis tumbuhan yang mudah ditemukan,
apalagi kita yang tinggal di daerah pedesaan. Hamparan pesawahan dipenuhi
dengan tanaman padi. Sebagian besar menjadikan padi sebagai sumber bahan
makanan pokok (Mubaroq, 2013).  Berikut
merupakan tabel Luas Panen, Produktivitas dan Produksi Tanaman Padi Sawah di Kabupaten
Majalengka periode 2011 – 2015 :

Tabel 1.1 Luas Tanam, Luas Panen, Produksi dan
Produktivitas Tanaman Padi Sawah di Kabupaten Majalengka periode 2011 – 2015

Tahun

Luas Tanam
(Ha)

Luas Panen
(Ha)

Produksi
(Ton)

Produktivitas
(Ku/Ha)

2011

104.980

96.767

615.158

63,57

2012

100.740

99.465

646.625

65,01

2013

114.925

106.684

699.214

65,91

2014

112.590

102.484

664.220

64,81

2015

95.308

97.883

644.995

65,89

Sumber : Dinas
Pertanian dan Perikanan Kabupaten Majalengka, 2015

Luas tanam tertinggi berdasarkan pada tabel di atas
adalah tahun 2013 yaitu, 114.925 Ha, Luas panen tertinggi ada pada tahun 2013
yaitu 106.684 Ha, produksi tertinggi ada pada tahun 2013 yaitu 699.214 Ton dan
produktivitas tertinggi ada pada tahun 2013 yaitu 65,91 Ku/Ha. Tahun 2013
merupakan tahun dengan Luas tanam, luas panen, produksi dan produktivitas
tertinggi selama periode tahun 2011 – 2015.

Produktivitas dan produksi memiliki pengaruh yang
cukup kuat untuk menentukan berhasil atau tidaknya usaha tani padi sawah
tersebut. Karena meskipun lahan pertanian yang digunakan memiliki luas yang
cukup besar, tapi jika nilai produksi rendah dapat dikatakan produksi padi
sawah tersebut juga ikut rendah. Sampai saat ini petani menjadikan kegiatan
bertani sekaligus kegiatan yang menghasilkan pendapatan juga (usaha), dengan
demikian kegiatan pertanian yang di ikuti dengan kegiatan usaha dapat dikatakan
sebagai usahatani, karena petani masa kini turut memperhatikan bagaimana cara
memperoleh keuntungan dari kegiatan bertani mereka.

Produksi yang bagus tidak terlepas dari sistem
irigasi yang menunjang selama proses produksi berlangsung, keadaan irigasi
dipengaruhi oleh curah hujan yang tidak menentu, apalagi sekarang sudah
memasuki musim kemarau. Berdasarkan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
(BMKG) Prakiraan curah hujan selama 30 tahun kebelakang, diketahui pada bulan
Mei, Juni dan Juli 2017 menggambarkan curah hujan di desa Baribis dan
sekitarnya, bulan Mei rata-rata curah hujannya 133, dengan curah hujannya 94,
maka sifatnya di bawah normal. Bulan Juli dengan rata-rata curah hujan 144 dan
curah hujannya 120, sifatnya di bawah normal, untuk bulan Juli rata-rata curah
hujannya 188, maka sifatnya diatas normal. Anomali iklim seperti curah hujan setiap
bulan selalu mengalami perubahan, dengan adanya anomali iklim itu maka
ketersediaan air untuk lahan-lahan pertanian juga tidak menentu.

Proses pengairan pada dasarnya memerlukan data Luas
Tanam berapa hektar padi yang ditanam oleh petani, sehingga petugas pengairan
dapat menentukan berapa banyak air yang dibutuhkan oleh tanaman padi setiap
fasenya, karena kebutuhan perhektarnya dengan ketersediaan air untuk memenuhi
lahan tanaman padi tersebut. Ketika ketersediaan air melimpah maka kebutuhan
air untuk tanaman padi dapat terpenuhi, disamping itu terlalu banyak air yang
merendam tanaman padi tidak baik untuk tanaman padi tersebut. Sehingga dengan
adanya pendataan Luas lahan kebutuhan tanaman padi dapat di perhitungkan dan
memudahkan petugas pengairan untuk mengatur air yang masuk ke setiap lahan padi
sawah milik setiap petani. Namun, jika ketersediaan air kurang maka akan
mempengaruhi pertumbuhan tanaman padi dan terjadilah cekaman air (water
stress). Pengadaan air dalam luas tanam selanjutnya akan berpengaruh
terhadap luas panen, kalau luas panen lebih kecil daripada luas tanam produksi
padi tidak maksimal, begitupula sebaliknya ketika luas panen sama dengan luas panen
dapat di prediksikan produksi padi maksimal.

Berdasarkan data
yang di peroleh dari Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Provinsi Jawa Barat,
pada tahun 2015 Majalengka memiliki Luas Lahan Pertanian Irigasi (Teknis)
sebesar 36.232 Ha dan non Irigasi (Non-Teknis) yaitu 14.102 Ha, berdasarkan
data tersebut Majalengka memiliki jumlah Luas Lahan Pertanian yang menggunakan
sistem irigasi sebesar 50.334 Ha. (Dinas Tanaman Pangan Provinsi Jawa Barat,
2015).

Tahun 2016,
berdasarkan data Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Majalengka, tercatat
luas lahan pertanian yang menggunakan sistem irigasi sebanyak 50.459 Ha. Dinas Perumahan,
Pemukiman, dan Sumber Daya Air (PPSDA) mencatat, wilayah irigasi yang berada di
Desa Baribis yaitu 186 Ha yang terbagi kedalam 3 jenis sistem irigasi, yaitu
irigasi teknis, irigasi non-teknis dan irigasi semi-teknis.

Desa Baribis terletak di Kecamatan
Cigasong, masyarakat Desa Baribis memiliki mata pencaharian utamanya yaitu
sebagai petani, dimana terdapat 423 orang yang berprofesi sebagai petani dan
tergabung dalam 6 kelompok tani, diantaranya ada Kelompok Tani Mukti Rahayu
yang beranggotakan 59 orang, Kelompok Tani Kamuning  yang memiliki anggota 78 orang, Kelompok Tani
Pamujaan dengan jumlah anggota 63 orang, Kelompok Tani Beukong dengan jumlah 85
orang yang tergabung di dalamnya, selanjutnya Kelompok Tani Sawah Lega dengan
keanggotaan 33 orang, dan terakhir kelompok tani Lebak Calung dengan anggota
terbanyak, yaitu 105 orang. Keenam kelompok tani tersebut tergabung dalam
Gapoktan Mekarjaya.

Varietas yang banyak digunakan
oleh petani padi sawah di Desa Baribis yaitu varietas Inpari dan Mekongga, dalam
penelitian ini penulis tidak menspesifikasikan varietas yang digunakan oleh
petani Desa Baribis, melainkan memilihnya secara acak dan memberikan kesetaraan
terhadap varietas padi sawah yang digunakan. Dilihat dari saluran irigasi yang
ada di Desa Baribis, terdapat satu saluran Tersier yang melewati daerah Baribis
yaitu Saluran Tersier (daerah irigasi) Pamujaan yang bersumber dari Saluran
Sekunder Cigonong dan memiliki saluran Induk yang berada di Bendung Cigasong
yaitu bendungan Ciodeng, dari saluran tersier Pamujaan tersebut terbagi menjadi
dua cabang (sadap) sebelum akhirnya mengisi ke saluran-saluran kwarter yang ada
di lahan pertanian.

Keberadaan irigasi merupakan salah
satu pembantu pasokan air untuk tanaman padi, dimana saat musim kemarau hampir
tiba ketersediaan air menjadi berkurang dan mengakibatkan pembagian air pada
tanaman padi sawah tidak stabil, untuk itu pemerintah daerah membangun saluran
irigasi sekunder yang dapat menghubungkan aliran sungai ke beberapa titik
saluran tersier yang  kemudian mengairi
daerah pesawahan atau terbagi lagi menjadi saluran kwarter. Saluran kwarter
tersebut merupakan saluran-saluran kecil diantara petak sawah.

Sistem irigasi di
Desa Baribis banyak digunakan untuk keperluan pengairan pada lahan pertanian
dan pemukiman penduduk, berdasarkan pengelompokan dari kelompok taninya,
terdapat 2 lahan kelompok  tani yang
dekat dengan saluran irigasi dan 4 lahan kelompok tani yang cukup jauh dari
saluran irigasi. Sedangkan untuk pola tanam yang umum yaitu padi-padi-palawija
atau padi-padi-bera, jika musim tanam ketiga petani menanam padi, hal itu
dikarenakan atas dasar keinginan yang kuat dari petani tersebut istilah lainnya
yaitu memaksakan diri. Hal ini tentu dapat mempengaruhi hasil produksi padi
sawahnya ketika panen berlangsung, jika air melimpah maka hasilnya akan lebih
baik dari perkiraan petani, tapi jika air susah untuk didapatkan, maka petani
sudah dapat melihat hasil produksi padi sawahnya, yaitu mengalami penurunan, dari
hasil produksi tersebut dapat diketahui seberapa besar pendapatan yang akan
diterima oleh petani padi sawah.

Dari pemaparan di atas, penulis tertarik untuk mengetahui
pengaruh terkait Irigasi dan pendapatan Usahatani  padi sawah yang ada di Desa Baribis,
dikarenakan persoalan terkait irigasi cukup untuk dijadikan sebagai alasan
penulis mengambil topik dalam Skripsi ini, dengan demikian Skripsi ini diberi
judul “Pengaruh Sistem Irigasi Terhadap Pendapatan Usahatani Padi Sawah (Oryza
sativa L.) Suatu Kasus di Desa Baribis Kecamatan Cigasong Kabupaten
Majalengka”.

Post Author: admin

x

Hi!
I'm Eunice!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out